Kidung puji pujian,
terucap tulus dari dalam hati
sealunan tasbih iringi nyanyian jiwa
yang sendu meratap
sholawat terngiang lirih tak terucap
menjadi genangan duka yang tak menetes
Duh...
gaduh benar batinku ini
dan, benakkupun menjadi belantara
pikirian dan pikiran
dan hatiku...
terus saja berpuisi tentang
kedalamanperasaan
dan aku...
ada diantara ujung-ujung tombak
keputusasaan mengembara menelusuri rimba kehidupan
yang dipenuhi gaung-gaung kesunyian
aku duduk dipuncak tertinggi diatas
tahta mimpi-mimpi
mencoba bentangkan sayang hati yang
semakin terasa patah
aku bersukaria, menari-nari bersama
bidadari-bidadari angan-angan
ketika semua itu aku rasakan
datanglah padaku sesuatu yang disebut
cinta
mengetuk daun pintu hatiku dengan
kelembutan
aku menjamu tamu hatiku itu dengan
secangkir mata air yang aku gali didalam pusara hati
lalu meramunya dengan manisnya madu
asmara
dan aku tuangkan kedalam gelas ketulusan
yang terbuat dari beningnya kasih sayang
dan aku hadapkan hidangan buah-buahan
yang aku petik dari pohon kesabaran
tamu hatiku itupun tersenyum
bersukaria diantara gelas-gelas yang
berdenting
lalu hatiku berkata
"Lihatlah istanaku ini....
aku taburi dengan wewangian misik dan
kesturi
bertaman bunga-bunga mawar yang indah
lihatlah dinding-dindingnya
terbuat dari puing-puing harapan
dihiasi puisi-puisi yang dirangkai para
pujangga ternama
tinggalah diistanaku ini
sesukamu..
dan...
kubiarkan cinta menyatu bersama
pembuluh dijantungku
menjadi denyut diurat nadiku
aku dengar cinta berbisik
"Duh ya Allah...
hiasilah aku dengan keridhoanMu
warnailah aku dengan keindahan
seperti pelangi yang Engkau ciptakan
diantara tetes-tetes air"
Duh ya Allah....
Maha Suci Engkau, yang telah
menciptakan aku
didalam ruang gelap didada manusia
menjadikan aku sebagai tali pengikat
diantara mereka
janganlah engaku sertakan Nafsu duduk
disampingku
nafsu yang hanya membawa malapetaka dan
kehinaan"
Seperi itu cinta berbisik lirih
dihatiku..
seperti hukama yang menyendiri berkeluh
kesah kepada Pemilik Arasy yang Tinggi
cinta dihatiku, sendiri menyapa sunyi
menyulam kain hangat dari benang-benang
di hatiku
Duh... kasihan benar cinta ini
merengek-rengek seperti bocah kecil
yang lapar
mengaduh seperti musafir yang dahaga
dia mencari pelabuhannya
dilorong-lorong hati, dan
dilembah-lembah jiwa belantara
Duh... cinta..
merenunglah...
sebab bintang-bintang takkan pernah
mendengar bisikanmu
Diamlah...
karena teriakanm takkan berubah menjadi
melodi seruling
Tenanglah....
sebab langit tak akan melelapkan
keterjagaanmu
dan hembus angin takkan pernah mampu
menyejukan keresahanmu
biarlah semuanya ada,
menghiasi tiap sisi dan diruangmu yang
bisu
Merenunglah...
sebab biru langi, takkan menghujanimu
dengan mata air surga firdaus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar