Welcome to Pena Biru's Blog...

Kamis, 02 Januari 2014

Senandung Cinta


Kidung puji pujian,
terucap tulus dari dalam hati
sealunan tasbih iringi nyanyian jiwa yang sendu meratap
sholawat terngiang lirih tak terucap
menjadi genangan duka yang tak menetes

Duh...
gaduh benar batinku ini
dan, benakkupun menjadi belantara pikirian dan pikiran
dan hatiku...
terus saja berpuisi tentang kedalamanperasaan

dan aku...
ada diantara ujung-ujung tombak keputusasaan mengembara menelusuri rimba kehidupan
yang dipenuhi gaung-gaung kesunyian
aku duduk dipuncak tertinggi diatas tahta mimpi-mimpi
mencoba bentangkan sayang hati yang semakin terasa patah
aku bersukaria, menari-nari bersama bidadari-bidadari angan-angan

ketika semua itu aku rasakan
datanglah padaku sesuatu yang disebut cinta
mengetuk daun pintu hatiku dengan kelembutan
aku menjamu tamu hatiku itu dengan secangkir mata air yang aku gali didalam pusara hati
lalu meramunya dengan manisnya madu asmara
dan aku tuangkan kedalam gelas ketulusan yang terbuat dari beningnya kasih sayang
dan aku hadapkan hidangan buah-buahan yang aku petik dari pohon kesabaran

tamu hatiku itupun tersenyum
bersukaria diantara gelas-gelas yang berdenting
lalu hatiku berkata
"Lihatlah istanaku ini....
aku taburi dengan wewangian misik dan kesturi
bertaman bunga-bunga mawar yang indah
lihatlah dinding-dindingnya
terbuat dari puing-puing harapan
dihiasi puisi-puisi yang dirangkai para pujangga ternama
 tinggalah diistanaku ini sesukamu..

dan...
kubiarkan cinta menyatu bersama pembuluh dijantungku
menjadi denyut diurat nadiku
aku dengar cinta berbisik
"Duh ya Allah...
hiasilah aku dengan keridhoanMu
warnailah aku dengan keindahan
seperti pelangi yang Engkau ciptakan diantara tetes-tetes air"
Duh ya Allah....
Maha Suci Engkau, yang telah menciptakan aku
didalam ruang gelap didada manusia
menjadikan aku sebagai tali pengikat diantara mereka
janganlah engaku sertakan Nafsu duduk disampingku
nafsu yang hanya membawa malapetaka dan kehinaan"

Seperi itu cinta berbisik lirih dihatiku..
seperti hukama yang menyendiri berkeluh kesah kepada Pemilik Arasy yang Tinggi
cinta dihatiku, sendiri menyapa sunyi
menyulam kain hangat dari benang-benang di hatiku

Duh... kasihan benar cinta ini
merengek-rengek seperti bocah kecil yang lapar
mengaduh seperti musafir yang dahaga
dia mencari pelabuhannya
dilorong-lorong hati, dan dilembah-lembah jiwa belantara

Duh... cinta..
merenunglah...
sebab bintang-bintang takkan pernah mendengar bisikanmu
Diamlah...
karena teriakanm takkan berubah menjadi melodi seruling
Tenanglah....
sebab langit tak akan melelapkan keterjagaanmu
dan hembus angin takkan pernah mampu menyejukan keresahanmu
biarlah semuanya ada,
menghiasi tiap sisi dan diruangmu yang bisu
Merenunglah...
sebab biru langi, takkan menghujanimu dengan mata air surga firdaus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar